May 25, 2021
From Center For Stateless Society
339 views


Oleh: Anna Morgenstern. Teks aslinya berjudul Markets vs Free Markets. Diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Ameyuri Ringo.

Para libertarian sering menyemburkan frasa “pasar bebas”, tapi kata yang paling penting diantara dua kata tersebut adalah kata bebas. Pasar, sesungguhnya merupakan urusan setelahnya. Ini bukan berarti kami tidak menginginkan kebebasan pada aktivitas non-pasar kita. Kami menginginkan kebebasan dalam segala hal, termasuk pada “transaksi pasar” kami. Kata pasar telah membingungkan banyak orang karena mereka membayangk​an “pasar” sebagai sebuah institusi, sesuatu yang dapat ditunjuk dengan jari dan berkata “ini adalah pasar.” Tapi kami tidsk mengartikan pasar dengan hal tersebut, serius. Tidak ada suatu objek/thingsyang bernama pasar. Itu hanyalah sebuah kata yang digunakan untuk menyebut semua jumlah total pertukaran

Satu-satunya alternatif untuk pasar adalah penjatahan berdasarkan aturan/komando. Monopoli tunggal dengan seluruh kontrol atas semua barang yang dibagikan kepada semua orang sesuai dengan skema yang telah direncanakan. Sebuah situasi dimana terdapat perdagangan dalam bentuk apapun, secara teknis adalah sebuah pasar.

Sekarang benar bahwa pertukaran membuat kondisi seseorang menjadi lebih baik daripada saat ia tidak melakukan pertukaran, atau tidak mau melakukannya. Ini bahkan berlaku untuk kasus perampokan sederhana. Saat perampok berkata “uang anda atau hidup anda” dan anda menyerahkan uang anda yang saat itu anda anggap sebagai pilihan terbaik. Namun, disinilah konteks tiba. Untuk memparafrase Lysander Spooner, seseorang harus bertanya bagaimana perampok bisa ada diposisi mengajukan penawaran/pertukaran. Untuk contoh lain yang sering digunakan, saat pemilik pabrik dengan kondisi kerja yang sangat buruk mengajukan sebuah pekerjaan dengan kondisi sangat buruk kepada seseorang, dan dia mengambilnya, tentu saja, bagi mereka itu lebih baik daripada menganggur. Melarang transaksi/penawaran hanya akan membuat orang-orang memiliki pilihan yang lebih buruk lagi untuk hidup. Tapi sekali lagi, yang harus dipertanyakan adalah bagaimana pemilik pabrik tersebut bisa ada diposisi pembuat penawaran.

Saat para politisi dan pakar media berbicara tentang “solusi berbasis pasar” atau “pasar”, orang-orang pasti bertanya-tanya pasar jenis apa yang akan dipilih? Yang pasti bukanlah “pasar bebas”, karena banyak, banyak alasan. Pelaku utamanya disini, yang paling tidak terlihat oleh publik adalah sistem perbankan dengan bank sentral sebagai kunci utamanya, sebuah kunci yang menjaga semuanya tetap bersama. Bahkan orang-orang yang komplain tentang “The Fed” secara umum melihat masalahnya adalah “inflasi”, inflasi harga. Bagian yang kurang terlihat inilah sistem bagaimana perbankan menciptakan oligopoli/oligopsoni, sebuah kondisi dimana pasar dengan beberapa produsen besar yang mampu memegang kendali terhadap upah pekerja dan penjualan produknya secara tidak wajar.

Mata uang fiat, mata uang yang tidak memiliki nilai selain paksaan dari pemerintah untuk menggunakannya, mengapung terhadap semua nilai barang dan jasa yang dapat dibeli dengan uang jenis tersebut. Semakin banyak yang masuk ke sistem, maka nilai uang akan turun. Ini biasanya disebut sebagai inflasi harga, tetapi itu bergantung juga pada seberapa cepat barang dan jasa yang diproduksi dibandingkan dengan kecepatan uang yang dimasukan ke sistem. Mata uang senilai X akan bernilai lebih sedikit jika ada 10000*X jumlah uang, daripada jima hanya ada 1000*X.

Sekarang, saat bank akan meminjamkan uang kepada perusahaan besar sebesar 95-99%, maka yang tersebut akan “dibuat” begitu saja. Angka-angka tersebut masuk kedalam buku rekening dan *poff* sekarang akun itu memiliki 100 juta dollar. Uang ini tidak benar-benar ada hingga sistem telah kehabisan uang nantinya. Apapun yang perusahaan belanjakan dengan uang itu, pada dasarnya telah mencuri dari semua orang yang membangun sistem uang tersebut. Jika dengan asumsi hutan tersebut akan dibayar, maka bank yang telah mencuri uang tersebut.

(Jika aku merampok rumahmu dan meminjamkan uang kepada seseorang untuk membeli lampu, jadi milik siapakah lampu tersebut?)

Siapapun yang menjual kepada korporasi akan mendapatkan keuntungan dari uang baru tersebut saat itu juga. Mereka mendapatkan sinyal bahwa saat ini ada permintaan X yang lebih banyak, dan kami akan menaikan harganya. Dan mereka pada gilirannya akan membelanjakan uang tersebut, dll. Siapapun yang mandapatkan uang tersebut paling akhir akan mendapatkan keuntungan paling sedikit karena harga-harga telah naik menyesuaikan dengan nilai yang terbaru.

Untuk menyederhanakan model ini, kalian dapat menganggapnya sebagai redistribusi daya beli. Siapapun yang membeli paling banyak adalah yang paling beruntung, dan mereka yang menyimpan uangnya adalah yang rugi. Pada akhirnya bank-bank itu sendiri yang mendapatkan keuntungan paling besar karena mendapatkan semua daya beli kembali dan sebagian selama pembayaran bunga mampu mengimbangi inflasi. Hal ini memaksa bank untuk memastikan suku bunga bank cukup tinggi untuk mengimbangi inflasi, atau mereka akan kehilangan daya beli dalam masa depan.

Tapi ini akan mengarah pada situasi di mana mereka yang membangun diri mereka di awal pasar mampu bersaing untuk mendapatkan dolar perbankan lebih baik daripada pendatang yang datang terakhir. Ditambah lagi, uang yang mereka dapat lebih berharga daripada uang yang didapat oleh para pendatang yang terlambat. Hal ini mengarah pada “penghalang untuk masuk” yang terus meningkat karena biaya tetap dalam menjalankan bisnis naik dan terus naik.

Ini saja pada akhirnya menciptakan oligopoli, tanpa intervensi lain. Lebih buruk lagi, hampir semua yang dilakukan pemerintah menghancurkan modal secara langsung, menghambat pembentukan modal baru, atau mengontrol bagaimana modal dapat ditransfer. Hal ini membuat biaya modal marjinal menjadi lebih tinggi, yang menguntungkan pemilik modal yang ada dengan mengorbankan orang lain. Kelangkaan modal artifisial ini menciptakan kelimpahan tenaga kerja yang dibuat-buat relatif terhadap modal, yang menyebabkan pengangguran dan upah rendah.

Regulasi adalah bagian besar dari skema ini. Negara regulasi seperti yang kita kenal diciptakan oleh gerakan progresif di akhir 1800-an dan awal 1900-an. Meskipun mitologi sejarah Amerika menyiratkan sebaliknya, pada saat itu sudah diketahui dengan baik bahwa hal ini akan menciptakan oligopoli. Oligopoli dipromosikan sebagai cara yang lebih “rasional” untuk memiliki pasar daripada “kekacauan” pasar bebas. Tentu saja setelah Anda menetapkan oligopoli, regulasi menjadi “diperlukan” untuk mencegah oligopoli tersebut sepenuhnya mengacaukan semua orang. Ini adalah ramalan yang terwujud dengan sendirinya.

Jika ternyata satu-satunya pemasok minuman, termasuk air, adalah CocaCola Inc dan PepsiCo, dan sangat mahal bagi orang lain untuk menyediakan minuman secara legal , perlu ada alasan bagus yang harus dibuat untuk mengatur perusahaan-perusahaan itu untuk mencegah mereka menjual limbah kepada kami dengan harga 10 dolar per botol. Pasti akan ada pasar gelap air, dimana para penganut sisrem “hukum dan ketertiban” akan menangis dengan kencang. Kualitas dan harga air pasar gelap itu akan dipertanyakan dan orang-orang akan saling membunuh demi rumput. Mungkin akan ada beberapa sayap kanan pada saat itu mengatakan “biarkan mereka mati kehausan” tetapi dalam kasus ini, sayap kiri akan benar, dalam konteksnya . Tetapi orang harus sekali lagi mempertanyakan bagaimana situasi seperti itu bisa terjadi.

Salah satu bentuk utama dari regulasi oligopolistik dan salah satu yang paling jelas adalah gagasan tentang “kekayaan intelektual”. Hak cipta dan paten secara langsung membentuk oligopoli, jika bukan monopoli, untuk jangka waktu tertentu. Paten setidaknya cukup terbatas dalam waktu dan ruang lingkupnya. Tapi hak cipta pada dasarnya abadi untuk tujuan kehidupan manusia mana pun. Dan preseden telah ditetapkan untuk memperpanjang persyaratan hak cipta tanpa batas waktu, khususnya untuk melindungi hak cipta yang sudah dipegang oleh bisnis besar. (lihat Disney sebagai contoh)

Setelah sistem oligopoli dibangun, pemerintah kemudian akan turun tangan dan mensubsidi mereka yang berada di bagian bawah sistem piramida buatan pemerintah ini untuk mencegah kelaparan dan kerusuhan massal. Yang cukup menarik, subsidi ini juga menciptakan hambatan untuk masuk ke pasar, dengan memberi dasar pada biaya tenaga kerja, memperburuk oligopoli, dan mendorong lebih banyak orang turun ke bagian dasar dalam jangka panjang.

Akhirnya logika sistem ini mengarah pada semacam Leninisme Kapitalis, di mana ada satu produsen besar yang menjual segala sesuatu dan mempekerjakan semua orang yang dipekerjakan dan semua orang lainnya sejahtera. Film Wall-e menunjukkan “komunisme bisnis” semacam ini dengan cukup baik.

Pendukung sayap kanan berbicara tentang “pasar” sepanjang hari, tetapi sebagian besar, apa yang mereka lawan hanyalah bagian Welfare dari sistem. Mereka menentang redistribusi dari kelas kaya dan kelas menengah ke orang miskin, tetapi tidak redistribusi dari kelas miskin dan kelas menengah ke orang kaya. Jika seseorang mengambil ideologi mereka secara ekstrim logis, kita akan memiliki bank yang memiliki segalanya, mungkin 10% teratas dari semua pekerja di setiap bidang akan memiliki pekerjaan dan semua orang akan dipaksa untuk bergabung dengan militer atau kelaparan. Militer ini harus digunakan untuk melindungi “properti pribadi” dari para penjarah dan perusuh, sehingga orang biasa akan dipaksa untuk membunuh tetangganya atau dibunuh oleh mereka. Leninisme Kapitalis dari konsensus liberal hampir terlihat bagus jika dibandingkan. Inilah yang disebut visi kaum liberal atau progresif ketika Anda mengatakan istilah “pasar bebas” atau “kapitalisme” kepada mereka. Baik “kiri” maupun “kanan” seperti yang kita kenal sekarang tidak memahami atau menentang mekanisme oligopoli, mereka hanya memperebutkan bagaimana rampasan itu disebarkan.

Untuk keturunan kita yang akan hidup dalam masyarakat bebas, “Dilbert” tidak akan masuk akal. Tidak seorang pun dapat bertahan dalam bisnis melakukan hal-hal itu, karena orang lain akan bangkit untuk menantang bisnis apa pun yang berjalan begitu buruk. â€œPolitik kantor” tidak mungkin dilakukan karena Anda akan kehilangan uang, dan tidak akan ada banyak dana dan “dana talangan” yang tak ada habisnya untuk membuat Anda tetap dalam bisnis. Modal akan tumbuh secara horizontal dan organik, karena akan ada insentif untuk menabung. Ini akan menurunkan harga modal dan membuat bisnis semakin kompetitif, dalam hal upah, harga, dan kualitas produk. Tanpa bank yang mendistribusikan kembali modal ke inti dan tanpa pemerintah meningkatkan hambatan untuk masuk, “bisnis besar” seperti yang kita kenal – oligopoli yang memutuskan siapa yang bekerja dan siapa yang menganggur, yang menghasilkan produk jelek dengan layanan pelanggan yang buruk karena “ke mana lagi Anda akan pergi?” tidak mungkin. Inilah sebabnya mengapa bagian “bebas” dari frase pasar bebas jauh lebih penting daripada bagian pasar. Kami sudah memiliki pasar. Apa yang tidak kita miliki adalah kebebasan.




Source: C4ss.org